google-site-verification=kyoZuJfnCslC6nAYsR6MS6s8JZnvGiySiMr38xtZi40
Artikel,  Inspirasi,  Nonfiksi,  Opini,  Tema Ditentukan,  Writing Callenge Rumedia

Perjuangan Guru Menghadapi New Normal

Hidup dalam new normal (tatanan baru) ala COVID 19 adalah keniscayaan yang harus kita hadapi hari ini. Kita harus kembali bekerja dan beraktivitas seperti sedia kala. Tentu dengan memperhatikan protokol kesehatan yang ketat ala COVID 19.

Mengapa?

Because life is must go on. Roda kehidupan harus tetap berputar. Aktivitas perekonomian harus terus berjalan. Supaya tetap ada pemasukan dan mencegah terjadinya PHK massal. halnya dengan dunia pendidikan. Anak-anak harus tetap bersekolah untuk mendapatkan ilmu sebagai bekal kehidupan.

Meski kembali masuk sekolah masih menjadi pro dan kontra di berbagai kalangan, penanggung jawab sekolah dan tenaga kependidikan harus mempersiapkan diri untuk menyambut era baru ini.

Oleh karena itulah, koordinator wilayah pendidikan di kecamatan kami mengadakan sosialisasi protokol kesehatan memasuki era normal baru. Protokol kesehatan ini meliputi:

  1. Kesehatan guru dan siswa
  2. Sarana dan prasarana kesehatan di sekolah
  3. Tata cara berangkat ke sekolah dan pulang ke rumah, serta
  4. Kegiatan pembelajaran selama berada di sekolah.

Siswa dan guru harus menjalani karantina mandiri di rumah selama 14 hari sebelum jadwal masuk sekolah. Guru dan siswa harus benar-benar dalam kondisi sehat saat masuk sekolah. Baik siswa maupun guru dicek suhu badannya sebelum memasuki gerbang sekolah, mencuci tangan sebelum memasuki kelas, dan menjaga jarak di dalam maupun di luar kelas.

Sekolah harus menyediakan sarana dan prasarana untuk cuci tangan, mengoptimalkan fungsi UKS (Unit Kesehatan Sekolah), dan memasang media edukasi pencegahan COVID 19.

Siswa sekolah di Cina disemprot dengan desinfektan sebelum masuk ke gedung sekolah
(Foto: boredpanda.com)

Tata cara berangkat dan pulang sekolah merupakan bagian penting dalam kegiatan belajar di sekolah ala new normal. Sekolah harus menyiapkan lokasi pemberhentian para pengantar dan penjemput siswa. Jarak antara pengantar satu dengan lainnya minimal satu meter.

Para pengantar dan penjemput juga tidak diperkenankan untuk berkumpul atau berkerumun di area sekolah. Setelah mengantar atau menjemput harus segera pulang. Demikian halnya dengan anak. Setelah jam pulang sekolah harus segera pulang, tidak boleh mampir-mampir dulu.

Kegiatan pembelajaran selama di sekolah dimaksimalkan di dalam kelas. Siswa duduk dengan jarak minimal satu meter dengan teman-temannya. Hal ini akan mempengaruhi daya tampung kelas.

Jumlah siswa yang diperbolehkan untuk era new normal ini maksimal 15 anak. Jika jumlah siswa dalam kelas melebihi 15 anak, maka kelas bisa dibagi dalam dua kelompok. Tiap kelompok masuk bergantian. Misalnya hari ini kelompok A masuk, sedangkan kelompok B belajar dari rumah secara online. Besuk ganti kelompok B yang masuk, sementara kelompok A belajar dari rumah dengan metode daring juga.

Dengan pengaturan semacam ini, tentu saja akan berpengaruh pada pelaksanaan kurikulum dan pencapaian target pembelajaran. Meski demikian, kedua hal ini harus bisa disiasati supaya target kurikulum tetap terpenuhi tanpa mengurangi hak anak untuk belajar.

Suasana kelas dalam era new normal di Cina (Foto: boredpanda.com)

Inilah perjuangan yang harus dipersiapkan oleh para guru dalam rangka menyongsong era new normal. Satu hal lagi, keberadaan virus Corona penyebab COVID 19 ini juga merubah gaya mengajar di dalam kelas.

Selama ini guru disarankan untuk bisa membangun interaksi dan motivasi siswa melalui beragam cara. Salah satunya adalah dengan memberikan penguatan secara fisik. Misalnya, guru mendekati tempat duduk siswa. Memberikan tepukan semangat di pundak. Atau memberikan bimbingan secara langsung kepada siswa secara personal.

Namun, di era new normal interaksi semacam ini harus ditiadakan. Guru tidak boleh mendekati tempat duduk siswa. Tidak boleh berkeliling kelas untuk melihat siswa dari dekat, baik untuk melihat pekerjaan siswa maupun untuk memberikan penguatan secara fisik seperti contoh di atas.

Saya yang terbiasa berkeliling kelas dan duduk di kursi bersama anak-anak merasa sangat berat dengan aturan baru ini. Tapi, mau tidak mau, aturan baru ini harus dipatuhi. Demi menjaga keselamatan generasi emas Indonesia.

Sebagai guru, saya harus berjuang untuk memastikan bahwa pembelajaran di kelas dapat berjalan dengan lancar dan menyenangkan tanpa ada kontak fisik antarsiswa. Kedengarannya mudah, tapi belum tentu pada saat praktiknya nanti.

Anak-anak yang biasanya saling usil dengan teman-temannya, kini harus duduk diam saja di tempatnya. Mereka yang biasanya bisa berjalan-jalan dengan bebas di dalam kelas, atau berlarian di halaman sekolah, sekarang harus tinggal diam di dalam kelas.

Sungguh perjuangan yang tidak mudah. Kita tidak ingin terjadi penularan melalui interaksi antarwarga sekolah. Sekolah adalah komunitas yang besar, yang melibatkan siswa dan walimurid sebagai bagian dari masyarakat.

Apalagi sekolah tempat saya mengajar memiliki jumlah siswa yang cukup besar, yakni mencapai 500 orang. Mereka berasal dari beberapa kecamatan di sekitar lokasi sekolah.

Salah satu hal yang membuat saya was-was adalah mungkinkah pembelajaran di kelas dapat berjalan tanpa kertas? Sehingga meminimalkan guru menerima hasil pekerjaan siswa berupa kertas. Kertas juga bisa menjadi sarana penularan COVID 19, kan?

Kekhawatiran kedua adalah bisakah anak-anak berperilaku sesuai protokol kesehatan COVID 19 era new normal di sekolah? Saya akan gamang sebenarnya. Apalagi untuk siswa laki-laki yang terkadang gampang tersinggung jika diledek temannya. Ujung-ujungnya bertengkar dan terjadi kontak fisik.

Jika terjadi hal demikian, maka guru harus turun tangan melerai anak-anak ini. Kemudian, terjadi kontak fisik antara guru dan siswa.

Kelihatannya ulasan saya ini berlebihan, ya! Tapi inilah salah satu bentuk perjuangan yang harus dilakukan guru di era new normal.

Semoga menginspirasi dan membuat kita semakin waspada dalam menyiapkan anak-anak memasuki era normal di sekolah.

(Ruang Aksara_Alizzah Syaharani)

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: