google-site-verification=kyoZuJfnCslC6nAYsR6MS6s8JZnvGiySiMr38xtZi40
Artikel,  Inspirasi,  Kisah Hikmah,  Nonfiksi,  Tema Ditentukan,  Uncategorized,  Writing Callenge Rumedia

Perjuanganku Merebut Kemerdekaan dari Belenggu Penjajahan Media Sosial

Tujuh belas Agustus 2020 bangsa Indonesia merayakan nikmat kemerdekaan yang ke-75. Memperingati detik-detik pembacaan teks Proklamasi oleh Dwi Tunggal, Soekarno-Hatta. Detik-detik penanda terbebasnya bangsa ini dari belenggu penjajahan.

Di tengah gegap gempita pelaksanaan upacara bendera untuk memperingati kemerdekaan Republik Indonesia, kurasakan sebuah kemerdekaan di dalam kalbuku. Ya, hari ini aku pun tengah merayakan kemerdekaan dari belenggu penjajahan media sosial.

Generasi muda Indonesia turut serta dalam perayaan HUT RI tahun lalu.

Dua hari yang lalu, kuputuskan untuk menghapus beragam aplikasi media sosial dari ponsel pintarku. Di satu sisi, platform media sosial ini memang berjasa sebagai ajang silaturahim di kala raga tak dapat bersua. Namun, di sisi lain mereka juga berpeluang menimbulkan efek candu bagi penggunanya.

Aku sudah mengalaminya. Saat masih membiarkan beberapa platform media sosial bercokol di ponsel pintar, aku begitu getol menyaksikan ragam unggahan warganet di dalamnya.

Sungguh kreatif sekali karya netizen +62 ini. Beragam konten mereka buat, mulai dari yang bikin ketawa sampai konten-konten yang memang berfaedah.

Tapi, lama-kelamaan aku tak bisa berpaling darinya. Ada saja tingkah-polah manusia yang ingin kupandang lebih lama. Terkadang, sampai tak sadar sudah berjam-jam mematung di depan layar si telepon seluler yang (katanya) pintar ini.

Telinga pun rasanya selalu terngiang-ngiang oleh musik pengiring video di salah satu platform media sosial yang sedang nge-hits belakangan ini. Efek yang paling parah, saat salat aku sama sekali tidak bisa merasakan khusyu dan tawadlu.

Masa iya, sambil salat aku bisa angguk-angguk/ geleng-geleng karena teringat musik latar yang sering kudengar di media sosial. Berasa salat dengan diiringi musik, nih!

Astagfirullah!

Dalam beraktivitas sehari-hari pun aku jadi tak bisa berkonsentrasi. Pikiran terbayang-bayang aksi kocak di beranda media sosial. Jemari ini gatal rasanya jika tidak mengusap layar gawai.

Sulitnya menyelesaikan amanah di bawah belenggu media sosial.

Aku juga sering merasa kesulitan menyelesaikan pekerjaan sesuai tenggat waktu. Performa kerjaku juga menurun drastis. Aku semakin tidak produktif.

Kesadaran itu datang, ketika salah satu Manajer Area (MA) Nulis Bareng (NuBar) Penerbit Rumedia bertanya kapan aku mulai mengadakan event nulis bareng lagi?

Aku pun berpikir, di antara penanggung jawab (PJ) event NuBar Rumedia banyak yang berprofesi guru sepertiku. Mereka pastinya juga tengah dipusingkan dengan pembelajaran jarak jauh yang sekarang sedang terlaksana.

Tapi, kenapa mereka masih bisa mengadakan event Nubar, bahkan setiap bulan. Mengapa aku tidak bisa?

Aku merasa waktu dan energiku begitu terkuras. Tapi tidak menghasilkan apa-apa.

Wah, tidak bisa dibiarkan lagi. Aku harus segera menghentikan semua ini. Aku harus berbuat sesuatu untuk menyelamatkan hidupku. Aku tak mau kemerdekaanku dijajah oleh media sosial.

Maka, bismillah.. dengan menyebut nama Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, aku uninstall semua platform media sosial yang minim faedah. Kuhapus semua media sosial yang hanya membuatku scroll up and down, kepo dengan kehidupan orang, dan bikin hati penuh prasangka yang tak berguna.

Bismillah, aku berlari menjemput takdir terbaik hidupku.

Namun, tentu saja aku pertahankan platform media sosial yang tetap membuatku bisa produktif berkarya. Salah satunya, web binaan dari Penerbit Rumah Media ini. Tempatku berbagi informasi dan inspirasi bersama Sobat Nubar semua.

Insya Allah, kini ku siap melangkah dalam lembar kehidupan yang baru. Hidup yang merdeka tanpa campur tangan media sosial yang mengekang.

Alhamdulillah.. merdeka!!

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: