google-site-verification=kyoZuJfnCslC6nAYsR6MS6s8JZnvGiySiMr38xtZi40
Artikel,  Inspirasi,  Kisah Hikmah,  Opini,  Tema Ditentukan,  Writing Callenge Rumedia

Menolak Kecanduan: Inilah Alasan Saya Meninggalkan Tik Tok Pas Lagi Sayang-Sayangnya

Deal! Saya hapus semua aplikasi media sosial di ponsel pintar milik saya. Salah satunya aplikasi media sosial yang sedang populer akhir-akhir ini. Ya, Tik Tok.

Tiktok memang menjadi aplikasi yang yang sangat menghibur di waktu luang saya. Hingga tak terasa waktu saya banyak terbuang sia-sia di depan layar ponsel pintar.

Kesadaran ini muncul setelah saya membaca pesan dari Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah yaitu,

إضاعةُ الوقت أشدُّ من الموت ؛ لأنَّ إضاعة الوقت تقطعك عن الله والدار الآخرة، والموتُ يقطعك عن الدنيا وأهلها

“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya”. [Al-Fawaid hal 44 dalam Bahraen, 2018]¹

Seperti tertampar rasanya. Apakah saya akan kembali ke negeri akhirat hanya berbekal keahlian menonton Tik Tok saja? Bagaimana jika Tuhan mempertanyakan untuk apa waktu di dunia ini saya gunakan?

Memang sih tidak semua konten yang diunggah ke Tik Tok itu buruk. Banyak juga konten-konten yang berfaedah. Misalnya tips memulai bisnis dari rumah, cara memotret yang keren dengan menggunakan ponsel pintar, dan beragam trik untuk mengatasi permasalahan sehari-hari.

Sama seperti aplikasi media sosial lainnya, Tik Tok hanyalah alat untuk mengekspresikan diri di dunia maya sesuai dengan konten yang ingin kita unggah. Tergantung kita ingin menggunakannya untuk apa.

Bahkan Tik Tok juga bisa kita pakai untuk cari duit, lho. Salah satu caranya ialah dengan fitur social commerce. Pengguna bisa mencantumkan link di kolom bio akun maupun posting konten Tik Tok untuk masuk ke sebuah produk atau layanan.

Fitur ini serupa dengan yang ada di Instagram, di mana pengguna bisa memasang link untuk menuju ke platform e-commerce atau akun media sosial brand yang diiklankan.

Hal ini tentu saja memudahkan para pengguna tiktok untuk menjadi influencer melalui aplikasi ini. Bahkan berdasarkan penuturan salah satu teman saya yang sebagai influencer mencari follower di Tik Tok itu jauh lebih cepat dibandingkan mencari subscriber di YouTube.

Tak heran jika kemudian platform streaming video ini berhasil menggaet hingga lebih dari 1 miliar pengguna pada tahun 2019 kemarin (Tim Redaksi Kumparan, 2019).

Namun sayangnya segala kemudahan yang ditawarkan oleh Tik Tok ini belum dapat saya manfaatkan secara produktif. Artinya, saya hanya menjadi penonton dan seringkali membuang-buang waktu secara percuma dengan melihat konten video yang ada di Tik Tok.

Tentu saja hal ini menghambat kinerja saya. Awalnya hanya ingin mengisi waktu luang sejenak sambil menghilangkan lelah sehabis bekerja. Tapi tak jarang malah keterusan sampai berjam-jam di depan layar ponsel pintar.

Bukan hanya Tik Tok saja, sih. Platform media sosial yang lain pun punya peluang yang sama besarnya untuk menghamburkan waktu yang saya miliki. Akan tetapi, berhubung sekarang yang lagi hits adalah Tik Tok maka aplikasi inilah yang paling sering saya klik saat sedang bersantai.

Ibarat lagu “Dalan Liyane” yang dinyanyikan oleh Hendra Kumbara, saya meninggalkan Tik Tok pas lagi sayang-sayange. Good bye, Tik Tok. Terima kasih telah memberi warna dalam hidupku.

Daftar pustaka:

1. Bahraen, Raehanul. 2018. Menyiakan-nyiakan Waktu Lebih Berbahaya dari Kematian. Diakses dari https://muslim.or.id/42113-menyia-nyiakan-waktu-lebih-berbahaya-dari-kematian.html pada hari Sabtu, 15 Agustus 2020 jam 16.00

2. Tim Redaksi Kumparan. 2019. Begini Cara Tik Tok Monetize Akun dan Konten Pengguna. Diakses dari https://kumparan.com/kumparantech/begini-cara-tik-tok-monetize-akun-dan-konten-pengguna-1sH7pgFBBlD pada hari Sabtu, 15 Agustus 2020.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: