google-site-verification=kyoZuJfnCslC6nAYsR6MS6s8JZnvGiySiMr38xtZi40
Inspirasi,  Kisah Hikmah,  Nonfiksi,  Tema Ditentukan,  Writing Callenge Rumedia

Hidup dalam Tiga Atap (Kisah Inspiratif dari Tiga Rumah yang Penuh Hikmah)

Tak pernah terbayangkan saat aku muda dulu, akan memasuki tiga rumah yang mempunyai arti dan kesan tersendiri. Tiga rumah yang akan mempengaruhi jalan hidupku.


Ya, saat seorang wanita sudah mulai dewasa, pastilah pernikahan yang menjadi awal dia memulai arti hidup yang sebenarnya. Hidup yang bukan hanya sekedar untuk dirinya sendiri tapi untuk orang lain. Suami adalah orang lain yang tidak punya hubungan keluarga dengan dirinya kemudian menjadi satu oleh sebuah ikatan yang dinamakan pernikahan.

Aku seorang istri yang pasti akan memasuki rumah mertua. Rumah yang menjadi tempat tinggal suamiku mulai dari dia kecil. Saat kulangkahkan kaki ke rumah itu, perasaan ini tidak menentu. Rasa deg-degan dan takut menjalar ke dalam hati ini.

Bagaimanakah aku akan bersikap, bagaimana keluarga mertuaku akan menerimaku, apalagi teringat banyak cerita kalau rumah mertua itu menakutkan.

Kulalui semua itu mulai dari awal, saat aku harus beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru, anggota keluarga baru, dan tentu saja dengan sikap dan sifat orang-orang yang ada didalamnya. Tidaklah semudah membalikkan telapak tangan ini.

Aku menemukan banyak sekali permasalahan di dalamnya. Tapi, Alhamdulillah aku mempunyai seorang suami yang selalu mendampingiku dan memberiku pengertian dan kekuatan disaat aku mulai merasakan kegelisahan tinggal bersama mertua.

Rumahku Istanaku (sumber foto: pexels.com)


Seiring berjalannya waktu, ternyata aku menemukan banyak pengalaman berharga dari tinggal bersama mertua. Dari beliaulah aku banyak mengetahui tentang suamiku yang menjadi modalku untuk menjadi istri yang baik. Di sana aku belajar bagaimana menghargai dan dihargai.

Terkadang, ingin sekali aku pulang atau berkunjung ke rumahku. Rumah orang tuaku, rumah yang kuanggap sangat hangat dan nyaman. Akan selalu ada yang menyambutku dengan hangat.

Orang tuaku, saudara-saudaraku yang selalu memandangku dengan gembira dan seakan-akan mereka bertanya, apa kamu baik-baik saja di sana. Di rumah ini, aku merasakan sesuatu yang membuat perasaanku tenteram. Aku bisa curhat dan ngobrol dengan ibu dan saudara-saudaraku.

Di sini aku tak perlu bingung dan cemas memikirkan, apakah masakanku enak, apakah sikapku bisa diterima dan banyak hal lainnya. Rumah orang tuaku akan tetap menyimpan kehangatan sampai kapanpun juga.

Rumahku, disinilah aku sekarang berada. Rumah yang suamiku peruntukkan untuk istri dan anaknya. Rumah yang menjadikanku sebagai seorang ratu. Di dalam sini aku bisa menata segala hal sesuka hatiku walaupun tak lepas dari diskusi dengan suamiku.

Aku merasakan ketenangan dan bisa melampiaskan semua keinginanku yang tak pernah terwujud saat aku tinggal bersama mertua bahkan orangtuaku. Aku bisa mengatur benda-benda seisi rumah, aku bisa menata menu makan untuk keluargaku, dan yang paling penting aku bisa melakukan kegemaranku tanpa harus sungkan atau malu kepada siapapun.

Ketiga rumah itu akan terus memberi arti dalam hidupku. Akan selalu mengukir kenangan yang dalam bagi semua yang ada didalamnya. Walaupun sekarang aku berada di rumahku, aku akan tetap selalu memasuki kedua rumah lainnya karena disana awal dari di sini aku berada.

Ruang Aksara/ Setiana N.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: